Tampilkan postingan dengan label cerita sang wali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita sang wali. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Juni 2020

PENTINGNYA MUTHOLA'AH, KHIDMAH DAN KIRIM HADIAH AL-FATIHAH KEPADA GURU

Tidak ada komentar:
       Maulana Habib Luthfi bin Yahya,


            "Jangan pernah tinggal mutholaah, dan jangan bosan mengulang-mengulangnya walaupun kitabnya hanya satu. sebab jika rajin mutholaah dengan berkah mu'allif, insya Allah di futuh oleh Allah."

            "Imam-imam kita itu karya-karyanya luar biasa, Imam Ibnu Hajar tiap malam baca sholawat sebanyak 20 ribu, Imam Nawawi 40 ribu, dan Syeikh Abi Zakariya al-Anshori tiap malam baca sholawat sebanyak 30 ribu, sampai ketika disebut nama Rasulullah hati mereka bergetar."

        "Yang kedua, jangan tinggal kidmah kepada guru walaupun hanya sedikit, itu yang menjadikan sebab terbukanya mafahim yang luar biasa."

"Yang terakhir, jangan tinggal kirim hadiah fatihah kepada guru, saya paling tidak suka kalau ada santri sampai melupakan gurunya, sebab kunci futuh itu ada di tangan guru, walaupun si santri lebih alim dari gurunya."

"Dulu selama di pondok, saya ikut mencangkul, Matun (menyiangi padi), Derep (memanen). semua itu saya kerjakan atas perintah guru."

"Selama di pondok, Saya tidak pernah menempatkan diri Saya sebagai seorang Sayyid (Habib). Saya selalu menempatkan diriku hanya sebagai seorang santri. Walaupun sebenarnya guruku (Kiai Muhammad Kaukab bin Muslim bin Sholeh) tahu nasabku."

"Pendiri Pondok Pesantren Benda Kerep yakni Kiai Sholeh, itu murid buyutku (Habib Umar bin Thoha bin Yahya Indramayu), Beliau sholat berjamaah subuh dengan wudhu sholat isya sebagai ma'mum di belakang Habib Umar selama 25 tahun."

"Kalau mau mencari Orang-orang yang alimnya melebihi Kiai Sholeh, banyak kita temui, tapi kalau mau mencari orang yang pangkat kewalianya tinggi seperti beliau, jarang kita temui."

🌹اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ🌹

Semoga kita senantiasa mendapat Ridlo dari Allah, Syafaat dari Rasullullah, Karomah para Waliyullah, Barokah para Kiai dan Habaib serta wasilah doa orang tua kita. Alfatihah
--------------
Allahumma Sholli Alaa Sayyidina Muhammad Wa Aalihi Wa Shohbihi Wasallim.
 .

Kamis, 11 Juni 2020

KAROMAH WALI MAJDUB HABIB ABU BAKAR ASSEGAF GRESIK

Tidak ada komentar:
         Namanya Habib Abu Bakar Assegaf Gresik, biasa disapa sapa Habib Bakar. Beliau adalah cucu Wali Qutub Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf Gresik. Habib Bakar ini dikenal wali jadzab. Dalam kesehariannya, Habib Bakar tidak sebagaimana seorang ulama’, bahkan tidak sedikit yang melihatnya orang biasa-biasa saja. Karena tak ada pakaian kebesaran yang melekat, sehingga mengenalinya memang tidak mudah.

     Pada suatu hari, ada seorang tukang becak sedang bersedih karena menanggung beban hidup yang makin sulit. Sebut saja namanya Pak Imam. Selesai habis Subuh, Pak Imam langsung mangkal di tempat perjuangannya mengayuh becak, berharap segera ada penumpang datang. Pak Imam terus terngiang pesan istrinya, bahwa hari ini jatuh tempo bayar hutangnya dan bayar sekolah anaknya.
Tiba-tiba, datanglah Habib Bakar dari arah depannya dan langsung naik di atas becak Pak Imam. Tanpa sepatah katapun, Habib Bakar sambil menunjuk arah dengan jemarinya yang menandakan bahwa beliau minta diantar di arah tersebut.

         Pak Imam termasuk sosok tukang becak yang sangat cinta para habaib. Dengan sangat bahagia, Pak Imam segera mengayuh becaknya sesuai petunjuk Habib Bakar. Di tengah mengayuh becaknya, Pak Imam ingat kebiasaan Habib Bakar dalam merokok. Uang seadanya di sakunya dibelikan rokok untuk Habib Bakar, wujud penghormataan Pak Imam kepada cucu Rasulullah. Padahal, itulah uang terakhir di sakunya yang mau digunakan untuk sarapan. Tapi kecintaannya kepada cucu Rasulullah tak bisa dibendung.

        Perjalanan becak kembali dilanjutkan. Tiba-tiba, ada mobil yang menyalib dan memberhentikan becak Pak Imam. Kaget dan sangat khawatir, karena Pak Imam baru membawa Habi Bakar.
Lima orang bersorban dan bergamis turun dari mobil. Mereka mengucapkan salam dan mencim tangan Habib Bakar. Salah satu dari rombongan itu mengeluarkan amplop tebal dan memberikannya kepada Pak Imam. Ragu dan kaget, Pak Imam merasa bingung seolah sedang di alam mimpi.
“Pak, terimalah amplop ini, Jangan ragu, ini rizki bapak Bapak sangat membutuhkannya, tegasnya,
Habib Bakar seketika turun dari becak itu dan memberikan isyarat kepada Pak Imam agar menerima amplop itu. Habib Bakar lalu pergi dengan jalan kaki tanpa sepatah katapun.
Pak Imam bergetar tubuhnya, sambil berlinang air mata, tangis bahagia wujud syukur kepada Allah SWT.

            Ilahadroti habb abu bakar assegaf, al fatihah

Semoga dengan kiriman fatiha ini kita dapat barokah beliau امین یربل علمین 🤲

Allohumma sholli 'ala sayyidina muhammad annabiyil ummi wa'ala alihi wasohbihi wasallim


Rabu, 10 Juni 2020

Sejatineng Urip ing alam Dunyo

Tidak ada komentar:
     Ora ana wong sugih sing ngluwihi sugihe wong nrima.
Ora ana keterangan sing luwih jelas ngluwihi jelase keterangan bab pati.

Rumangsa miskin luwih nentremake tinimbang sumugih nanging sejatine kekurangan.
Tentreming jiwa ora merga akehe bandha nanging merga gedhene rasa panarima.

Manungsa amung titah sakwantah
Sing teka ora nggawa apa-apa,bali uga ora nggawa apa-apa kajaba amal becik utawa ala sing wis kelakon nalika urip ana alam ndonyo .


Selasa, 12 Mei 2020

JANGAN KAU PANDANG HINA DIRINYA, KAU TAK TAHU TENTANG KEADAANYA

Tidak ada komentar:
       Kisah Nyata tahun 2015 Seorang Habib bertemu dengan Seorang Wanita Pekerja Malam.

         Sekitar tahun 2015 Habib Ubeid Alkaf perjalanan dari Bandung ke BEKASI mau ke rumah salah satu Gurunya tak terasa perjalanan sangat melelahkan, Akhirnya Habib Ubeid Alkaf dan temannya untuk istirahat sebentar di sebuah warung hanya untuk melepas lelah sambil menikmatì secangkir kopi ( mengenakan pakaian biasa).

             Habib Ubeid Alkaf pun mulai menikmati secangkir kopinya tak lama kemudian ia di hampiri seorang wanita pekerja malam dengan pakaian seksi ( Habib Ubeid Alkaf dan temannya tidak mengetahui kalau warung yang tempat dia minum kopi tersebut adalah tempat mangkal laki-laki hidung belang yang sedang mencari wanita malam ).

          Akhirnya wanita tersebut mengajak ngobrol Habib Ubeid Alkaf tanpa malu-malu.

Wanita : Abang mau saya pijitin...?

👳Habib : Gak usah mbak saya di sini cuma istirahan sebentar.

Wanita : Justru itu aku pijitin biar lelahnya hilang.

👳Habib : Dengan nada yang sopan sedikit berani menanyakan harganya, berapa sekali pijit ?

Wanita : 200rb, kalau di tambah plus-plus 500rb.

👳Habib : ( Dalam hatinya Habib Ubeid sedih mendengarnya ) Kalau begitu mbak gak usah pijitin saya tapi duduk di sini temani saya sampai menjelang Subuh dan saya kasih uang 500rb.

         Akhirnya wanita itu pun mau dengan harga 500rb hanya untuk sekedar menemani ngobrol dan makan gorengan Gratis.
              Tak terasa waktu mulai menjelang Subuh akhirnya Habib Ubeid Alkaf pamitan pulang sambil memberi uang 500rb.
Sang wanitapun tak sungkan-sungkan pulangnya minta di antarkan di sekitaran Jln. Kali Semut.

           Selama di perjalanan si wanita bercerita tentang keadaannya mencari uang selama ini, bahwa dia di tinggal suaminya, mencari pekerjaan tidak dapat akhirnya dia bekerja sebagai wanita malam untuk mengnafkahi anak perempuan satu-satunya yang berumur 9 tahun ( kelas 3 SD ).

           Wanita ini mulai bercerita ke Habib Ubeid Alkaf sesunggungnya tidak mau bekerja seperti ini tetapi keadaanlah yang membuatnya begini.
Akhirnya dia menceritakan soal anak perempuan yang setiap Subuh membukakan pintu untunya. Bahwa anak perempuannya selalu Sholat Subuh.Anaknya tidak tau kalau ibunya bekerja seperti ini.

        Tak lama kemudian Habib Ubeid Alkaf sampai di rumah wanita tersebut, tetapi Habib Ubeid Alkaf tidak langsung pulang dia ikut turun tetapi hanya di samping pintu mobil melihat dari jarak jauh.

        Tak lama wanita itu sampai rumah keluarlah anak kecil memakai Hijab dengan muka di basahi Wudhu membukakan pintu.
Habib Ubeid Alkaf pun tersentuh hatinya dan akhirnya bersama temannya untuk mampir ke rumah wanita tersebut ingin bertemu anak tadi.

          Kenalkan saya Om Ubeid teman ibu kamu, anak kecil itu mempersilakan masuk.

👳Habib : Kamu selalu Sholat Subuh tiap hari.

Anak : Iyaa om...sambil menunggu ibu saya pulang kerja.

👳Habib : Kamu tau kerja ibu kamu apa?

Anak : Kerja di Pabrik om,kalau kerja di Pabrik masuknya malam dan pulangnya pagi.

Selama ibu di rumah ibulah yang mengajarkan aku baca Al - Qur'an, belajar pelajaran sekolah bahkan kalau Sholat ibu yang selalu menjadi Imam untukku.

Habib Ubeid Alkaf pun matanya mulai berlinang mendengar cerita anak itu. Ibu anak itupun menangis mendengar cerita anaknya ( sambil di peluknya ).
Akhirnya Habib Ubeid Alkaf bercerita bahwa dia adalah Guru mengangaji ibunya. Dan Habib Ubeid Alkaf pamitan untuk pulang ( sambil memberi uang 500rb untuk anak itu )

Selama di dalam perjalanan ke Bekasi menuju rumah Gurunya Habib Ubeid Alkaf tidak henti-hentinya menangis mendapatkan cerita perjalanannya malam ini.Habib Ubeid Alkaf pun tak henti-hentinya mengucapkan Dzikir sambil menangis.

Sahabat, dari cerita ini jangan lah kita selalu berprasangka buruk kepada semua orang, karena mereka berbuat tidak baik bukanlah maunya tetapi keadaanlah.

Sekarang Habib Ubeid Alkaf tinggal di Banjarmasin menyebarkan Dakwah di daerah Banjarmasin atas Petunjuk Gurunya.

Semoga bermanfaat...



Minggu, 10 Mei 2020

BAGAIMANA ENGKAU MEMANDANG GURUMU

Tidak ada komentar:
        Al_ Imam Ali bin Hasan al Aththas mngatakan :

ﺍﻥ ﺍﻟﻤﺤﺼﻮﻝ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﺍﻟﻔﺘﺢ ﻭﺍﻟﻨﻮﺭ ﺍﻋﻨﻲ ﺍﻟﻜﺸﻒ ﻟﻠﺤﺠﺐ، ﻋﻠﻰ ﻗﺪﺭ ﺍﻻﺩﺏ ﻣﻊ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻭﻋﻠﻰ ﻗﺪﺭ ﻣﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﻛﺒﺮ ﻣﻘﺪﺍﺭﻩ ﻋﻨﺪﻙ ﻳﻜﻮﻥ ﻟﻚ ﺫﺍﻟﻚ ﺍﻟﻤﻘﺪﺍﺭ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺷﻚ

" Memperoleh ilmu, futuh dan cahaya (maksudnya terbukanya hijab2 batinnya), adalah sesuai kadar adabmu bersama gurumu. Kadar besarnya gurumu di hatimu, maka demikian pula kadar besarnya dirimu di sisi Allah tanpa ragu ".(al Manhaj as Sawiy : 217)

•Imam Nawawi ketika hendak belajar kepada gurunya, beliau selalu bersedekah di perjalanan dan berdoa, " Ya Allah, tutuplah dariku kekurangan guruku, hingga mataku tidak melihat kekurangannya dan tidak seorangpun yg menyampaikan kekurangan guruku kepadaku ".
(Lawaqih al Anwaar al Qudsiyyah : 155)

Beliau pernah mengatakan dalam kitab At Tahdzibnya :

ﻋﻘﻮﻕ ﺍﻟﻮﺍﻟﺪﻳﻦ ﺗﻤﺤﻮﻩ ﺍﻟﺘﻮﺑﺔ ﻭﻋﻘﻮﻕ ﺍﻻﺳﺘﺎﺫﻳﻦ ﻻ ﻳﻤﺤﻮﻩ ﺷﻲﺀ ﺍﻟﺒﺘﺔ
" Durhaka kepada orang tua dosanya bisa hapus oleh taubat, tapi durhaka kepada ustadzmu tidak ada satupun yg dapat menghapusnya ".

•Habib Abdullah al Haddad mengatakan " Paling bahayanya bagi seorang murid, adalah berubahnya hati gurunya kepadanya. Seandainya seluruh wali dari timur dan barat ingin memperbaiki keadaan si murid itu, niscaya tidak akan mampu kecuali gurunya telah ridha kembali ".
(Adaab Suluk al Murid : 54)

•Seorang murid sedang menyapu madrasah gurunya, tiba2 Nabi Khidir mendatanginya. Murid itu tidak sedikitpun menoleh dan mengajak bicara nabi Khudhir. Maka nabi Khidhir berkata, " Tidakkah kau mengenalku ?. Murid itu menjawab, " ya aku mengenalmu, engkau adalah Abul Abbas al Khidhir ".
Nabi Khidhir, " kenapa kamu tidak meminta sesuatu dariku ?".
Murid itu menjawab, " Guruku sudah cukup bagiku, tidak tersisa satupun hajat kepadamu
(Kalam al Habib Idrus al Habsyi : 78)

Al Habib Abdullah al Haddad berkata, " Tidak sepatutnya bagi penuntut ilmu mengatakan pada gurunya, " perintahkan aku ini, berikan aku ini !", karena itu sama saja menuntut untuk dirinya. Tapi sebaiknya dia seperti mayat di hadapan orang yg memandikannya ".
(Ghoyah al Qashd wa al Murad : 2/177)

•Para ulama ahli hikmah mengatakan, " Barangsiapa yang mengatakan " kenapa ?" Kepada gurunya, maka dia tidak akan bahagia selamanya ". (Al Fataawa al Hadiitsiyyah : 56)

•Para ulama hakikat mengatakan, " 70% ilmu itu diperoleh sebab kuatnya hubungan ( batin,adab dan baik sangka )antara murid dengan gurunya".

Semoga kita semua termasuk murid yang baik dan mendapat berkah dari guru kita, Aamiiin


Sabtu, 12 Oktober 2019

HABIB UMAR: GURU SEKUMPUL DAN HABIB ABDUL QADIR JEDAH PEGANG WALI QUTUB PADA MASANYA

Tidak ada komentar:
           Tahun 2009, Habib Umar bin Hafidz melakukan perjalanan dakwahnya di Indonesia. Salah satu tempat yang dituju adalah makam KH Muhammad Zaini Abdul Ghani (Guru Sekumpul). Habib Umar bahkan sampai ziarah ke makam Guru Sekumpul. Walaupun secara dhohir belum sering bertemu, tapi secara batin keduanya punya hubungan yang sangat erat.

           Saat itu, Habib Umar mengisahkan bahwa semasa hidupnya, Guru Sekumpul selalu membaca Maulid Simtud-Duror Al Habsyi di majlis maulid di Sekumpul, Martapura. Tiap malam Senin itu dibaca, sehingga arys bergemuruh lantaran bacaan Guru Sekumpul itu.

          “Pemegang Wali Qutub saat itu ada dua orang, yaitu Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf di Jedah dan Syeikh Zaini di Sekumpul, Martapura. Aku dibukakan futuh (dibukanya ruhani) melihat Wali Qutub Syeikh Zaini berada di dalam istana yang sangat megah. Istananya bertingakat dengan banyak kebun-kebun. Istana Syeikh Zaini berada di bawah naungan Syeikh Muhammad Arsyad Al Banjari, datuknya (Guru Kalampayan), dibawah bimbingan Syekh Samman dan Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani yang diterimanya langsung dari Rasulullah SAW. Istana itu dipenuhi oleh murid-murid Syeikh Zaini,” tegas Habib Umar.

            Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf adalah sosok guru mulia yang sangat masyhur pada masanya. Habib Umar termasuk salah satu murid kinasih Habib Abdul Qadir.

            Habib Umar juga mengisahkan bahwa sungguh luar biasa Guru Sekumpul bersama murid-muridnya. Sungguh
beruntung orang yang menjadi murid Guru Sekumpul dan mengikuti jejak langkahnya.

         “Akupun kalau datang ke Banjar pasti ziarah ke makam Syeikh Zaini minta berkah beliau,” tegas Habib Umar.

             “Ketika Syeikh Zaini telah wafat, aku sering melihat Syeikh Zaini di makam Zanbal, Hadramaut, Yaman, mengunjungi dan bertemu bertatap muka dengan para Auliya. Ketika wafatnya Syeikh Zaini pada tahun 2005, aku lihat langit terbelah, para malaikat semuanya turun mendatangi Syeikh Zaini,” kisah Habib Umar.

             Dalam kisah lain, pada suatu hari Habib Anis bin Alwi Al-Habsyi Solo berkunjung ke tempat Wali Qutub Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf di Jeddah. Saat itu, Habib Abdul Qadir Assegaf berkata, “Setiap wali di seluruh dunia berada di bawah telapak kakiku (di dalam kerajaanku, sebagaimana pernah juga diucapkan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani)”.

“Kalau Guru Sekumpul (KH. Zaini Abdul Ghani)?,” tanya Habib Anis.

             “Tidak ada dalam kerajaanku,” jawab Habib Abdul Qadir.

            “Saya pernah berkunjung ke tempat Guru Sekumpul. Di sana dihadiri banyak jamaah dan membacakan kitab-kitab yang banyak dibaca para habaib juga.” kata Habib Anis lagi. Bahkan sampai dua kali Habib Anis menanyakan sosok Guru Sekumpul, tapi tetap dijawab “tidak ada” oleh Habib Abdul Qadir.

            Dan untuk ketiga kalinya Habib Anis menanyakan hal yang sama kepada Al-Habib Abdul Qadir. Sejenak kemudian Habib Abdul Qadir terdiam, lalu berkata:

            “Ada, tapi beliau mempunyai kerajaan tersendiri dan lengkap dengan bawahan semuanya. Dan langsung Rasulullah SAW yang memberikan kerajaan tersebut.”

             Suatu ketika ada seseorang yang bertanya kepada Guru Sekumpul tentang sosok Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf Jeddah. Dan Tuan Guru Sekumpul menjawab: “Al-Habib Abdul Qadir itu wali Qutubnya dunia.”

            Kisah Habib Anis bertemu Habib Abdul Qadir ini diceritakan oleh Habib Ali yang tak lain adalah keponakan Habib Anis al-Habsyi Solo. Semoga dengan membaca kisah para wali ini, kita mendapatkan dari Allah SWT.

Wallahu a'lam

Rabu, 09 Oktober 2019

Memagari Rumah atau Memagari Orang

Tidak ada komentar:
          Siapkan satu gelas air. Untuk memagari rumah, bacalah Do’a Nur Nubuwwah 1x. kemudian berdo’a “Ya Allah. Hamba berniat menggunakan kekuatan gaib yang ada di dalam diri hamba. Hamba mohon dengan perantara air ini, lindungilah rumah/sawah/kebun … bin … (nama dan nama bapaknya) dari kejahatan kasar dan halus, amin”.

        Kemudian tiupkan 3x pada sebotol air.
Gunakan air untuk menyiram sekeliling rumah. insyaAllah akan terlindung dari kejahatan halus, pencurian, perampokan dll. Bila ada yang berniat jahat maka ia akan bingung dan tidak dapat pulang. Namun jangan disakiti atau dizalimi. Berilah ia makan. Kalau ada kelebihan uang, berilah dia uang dan tunjukkan jalan pulang. Ingat! Tidak boleh disakiti, melainkan disadarkan.

            Untuk memagari orang caranya sama, hanya tidak perlu menggunakan kata rumah atau alamat. Air digunakan untuk minum dan mandi.

Do’a Nur Nubuwwah

BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIM.
Kemudian diteruskan dengan ALLAAHUMMA DZIS SULTHAANIL ‘AZHIM, WA DZIL MANNIL QADIIM, WADZIL WAJHIL KARIIM, WAWALIYYIL KALIMAATI TAAMMAATI WAD
DA’AWAATIL MUSTAJA ABAH, ‘AAQILIL HASANIWAL HUSAINI MIN ANFUSIL HAQQI ‘AINIL QUDRATI WAN NAAZHIRIINA WA’AINIL INSIWAL JINN, WAIN YAKAADUL LADZIINA KAFARUU LI YUZLIQUUNAKA BI ABSHAARIHIM LAMMAA SAMI’UDZDZHIKRA,
WAYAQUULUUNA IN NAHUU LAMAJNUUN, WAMAAHUWA ILLAA DZIKRUL LIL‘AALAMIIN.
WAMUSTAJAABU LUQMAANIL HAKIIM. WA WARITSU SULAIMAANABNI DAAWUDA ‘ALAIHI
WAS SALAAM.

AL-WADUUD (7 kali AL WADUUD)……. (Lalu sebutkan. keinginan dalam hati kepada Allah SWT.

       Setelah itu Lanjutkan dengan membaca …… DZUL’ARSYIL MAJIID. THAWWIL ‘UMRII WASHAHHIH AJSAADII WAQDHI HAAJATII WAKTSIR AMWAALII WA AULAADII
WAJ ALNI HABBIBAN LINNAASI AJMA’JIN. WA TABBA’ADIL’ADAAWATA KULLA
MIMBANII AADAMA ‘ALAIHIS SALAAM. MANKAANA HAYYAUW WA YAHIQQAL QAULU ‘ALALKAAFIRIIN. WA QULJAA AL HAQQU WA ZAHAQAL BAATHIL, INNA BAATHILAKAANA ZAHUUQAA. WA NUNAZZI LU MINAL QUR’AANI MAA HUWA SYIFAAUW
WARAHMATUL LIL MUKMINIIN. WALAA YAZIIDUZH ZHAALIMIINA ILLAA KHASAARAA.
SUBHAANA RABBIKA RABBIL ‘IZZATI ‘AMMAA YASHIFUUN, WA SALAAMUN ‘ALAL MURSALIIN, WAL HAMDU LIL LAAHI RABIIL ‘AALAMIIN”.   

nb. Tetap memhon pada Allah dan Jangan lupa shalat 5 waktu smoga bermanfaat

Minggu, 06 Oktober 2019

RENUNGAN Sebuah BOTOL

Tidak ada komentar:
              Sebuah BOTOL🍶
~Kalau diisi air mineral, harganya 3 ribuan...
~Kalau diisi jus buah, hargan ya 10 ribuan...
~Kalau diisi Madu, harganya ratusan ribu...
~Kalau diisi minyak wangi harganya bisa jutaan!.
~Kalau diisi air comberan, hanya akan dibuang dalam tong sampah karena tidak ada harganya...

           Sama-sama dikemas dalam BOTOL tetapi berbeda nilainya, sebab "isi" yang ada di dalamnya berbeda...

          Begitu juga dgn kita; semua sama... semua manusia...

Yang membedakannya adalah; KARAKTER yg ada didalam diri kita.

Ilmu dan pemahaman yg benar akan membangun karakter yg benar.

"Sukses tidak diukur dari posisi yg kita capai, tapi dari kesulitan'2 yg berhasil kita atasi ketika berusaha meraih sukses"

Bila kita mengisi hati, dgn penyesalan masa lalu & kekhawatiran akan masa depan, hampir pasti kita tidak akan memiliki hari ini untuk kita syukuri.

Hujan & badai akan selalu kita temui dalam perjalanan hidup, namun...

"Hujan besar itu seperti tantangan hidup. Tidak perlu berdoa memohon hujan berhenti, tetapi cukup berdoa agar Payung kita bertambah kuat"

Ingat! Umur itu seperti es batu.
dipakai atau tidak dipakai akan tetap mencair... digunakan atau tidak digunakan umur kita tetap akan berkurang dari "jatah" yg telah ditetapkan.

"Selagi masih tersisa jatah usia kita, lakukanlah KEBAIKAN sebanyak yg kita mampu lakukan."

1. Ada 3 hal dalam hidup yang tidak bisa kembali:
          Waktu, Ucapan dan Kesempatan 
Jagalah itu, jangan sampai kau menyesal karenanya...

2. Ada 3 hal yang dapat menghancurkan hidup seseorang:
          Amarah, Keangkuhan dan Dendam
Hindarilah ia selalu...

3. Ada 3 hal yang tidak boleh hilang :
          Harapan, Keikhlasan dan Kejujuran   
Peliharalah ketiganya...

4. Ada 3 hal yang paling berharga :
        Kasih Sayang, Cinta dan Kebaikan     
Pupuklah itu semua...

5.  Ada 3 hal dalam hidup yang tidak pernah pasti:
          Kekayaan, Kejayaan dan Mimpi   
Jangan terobsesi karenanya...

6. Ada 3 hal yang dapat membentuk watak seseorang :       
    Komitmen, Ketulusan dan Kerja Keras   
Upayakanlah sekuatnya...

7. Ada 3 hal yang membuat kita sukses :
           Tekad, Kemauan dan Fokus
Usahakan dengan sungguh-sungguh...

8. Ada 3 hal yang tidak pernah kita tahu :
          Rejeki, Umur dan Jodoh       
Mintalah pada TUHAN..
TAPI, ada 3 hal dalam hidup yang PASTI :   
         Tua , Sakit dan Kematian

Persiapkanlah dengan sebaik-baiknya...

Selasa, 27 Agustus 2019

SITI KHADIJAH (Istri Rasulullah SAW )

Tidak ada komentar:


- Tak Tahan Air Mata, Banyak Yang Menangis Membaca Kisah Ibu Siti Khadijah (Istri Rasulullah) ini

- Ibu Siti Khadijah Memang Wanita Istimewa.
DUA PERTIGA (2/3) wilayah Makkah adalah milik Siti Khadijah, istri pertama Rasulullah SAW.
Ia wanita bangsawan yang menyandang kemuliaan dan kelimpahan harta kekayaan.

- Namun ketika wafat, tak selembar kafanpun dia miliki. Bahkan baju yang dikenakannya di saat menjelang ajal adalah pakaian kumuh dengan 83 tambalan.

“Fatimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba,” bisik Ibu Siti Khadijah kepada Fatimah sesaat menjelang ajal. “Yang kutakutkan adalah siksa kubur.

- Tolong mintakan kepada ayahmu, agar beliau memberikan sorbannya yang biasa digunakan menerima wahyu untuk dijadikan kain kafanku.
Aku malu dan takut memintanya sendiri”.

- Mendengar itu Rasulullah berkata, “Wahai istriku Khadijah, Allah menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga”.

- Ibu Siti Khadijah, Ummul Mu’minin (ibu kaum mukmin), pun kemudian menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan Rasulullah.

- Didekapnya sang istri itu dengan perasaan pilu yang teramat sangat. Tumpahlah air mata mulia Rasulullah dan semua orang yang ada di situ.

- Dalam suasana seperti itu, Malaikat Jibril turun dari langit dengan mengucap salam dan membawa lima kain kafan.
Rasulullah menjawab salam Jibril, kemudian bertanya, “Untuk siapa sajakah kain kafan itu, ya Jibril?”
“Kafan ini untuk Siti Khadijah, untuk engkau ya Rasulullah, untuk Fatimah, Ali dan Hasan,” jawab Jibril yang tiba-tiba berhenti berkata, kemudian menangis.

- Rasulullah bertanya, “Kenapa, ya Jibril?”
“Cucumu yang satu, Husain, tidak memiliki kafan.
Dia akan dibantai, tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan,” jawab Jibril.

- Rasulullah berkata di dekat jasad Siti Khadijah, “Wahai Khadijah istriku sayang, demi Allah, aku tak kan pernah mendapatkan istri sepertimu.

- Pengabdianmu kepada Islam dan dirimu sungguh luar biasa.
Allah Maha mengetahui semua amalanmu.
Semua hartamu kau hibahkan untuk Islam.
Kaum muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini juga darimu.
Namun begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban!?”

- Tersedu Rasulullah mengenang istrinya semasa hidup.

- Siti Khadijah
Dikisahkan, suatu hari, ketika Rasulullah pulang dari berdakwah, beliau masuk ke dalam rumah. Khadijah menyambut, dan hendak berdiri di depan pintu, kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Khadijah, tetaplah kamu di tempatmu”.

- Ketika itu Khadijah sedang menyusui Fatimah yang masih bayi.
Saat itu seluruh kekayaan mereka telah habis. Seringkali makanan pun tak punya, sehingga ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar akan tetapi darah.
Darahlah yang masuk dalam mulut Fatimah r.a.

- Kemudian Rasulullah mengambil Fatimah dari gendongan istrinya, dan diletakkan di tempat tidur.
Rasulullah yang lelah sepulang berdakwah dan menghadapi segala caci-maki serta fitnah manusia itu lalu berbaring di pangkuan Khadijah hingga tertidur.

- Ketika itulah Khadijah membelai kepala Rasulullah dengan penuh kelembutan dan rasa sayang.
Tak terasa air mata Khadijah menetes di pipi Rasulullah hingga membuat beliau terjaga.

“Wahai Khadijah, mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku?” tanya Rasulullah dengan lembut.
“Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang.
Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis.
Adakah engkau menyesal, wahai Khadijah, bersuamikan aku, Muhammad?" lanjut Rasulullah tak kuasa melihat istrinya menangis.

“Wahai suamiku, wahai Nabi Allah. Bukan itu yang kutangiskan," jawab Khadijah.
"Dahulu aku memiliki kemuliaan. Kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku adalah bangsawan. Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan.
Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya”.

"Wahai Rasulullah, sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini.
Wahai Rasulullah, sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu belum selesai, sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyeberangi sungai namun engkau tidak memperoleh rakit atau pun jembatan, maka galilah lubang kuburku, ambillah tulang-belulangku, jadikanlah sebagai jembatan bagimu untuk menyeberangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu”.

"Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah.
Ingatkan mereka kepada yang hak. Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah”.

- Di samping jasad Siti Khadijah, Rasulullah kemudian berdoa kepada Allah. “Ya Allah, ya Ilahi Rabbiy, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Khadijahku, yang selalu membantuku dalam menegakkan Islam. Mempercayaiku pada saat orang lain menentangku. Menyenangkanku pada saat orang lain menyusahkanku. Menenteramkanku pada saat orang lain membuatku gelisah”.

- Rasulullah pun tampak sedih. “Oh Khadijahku sayang, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku.
Siapa lagi yang akan membantuku?”
“Aku, ya Rasulullah!” sahut Ali bin Abi Thalib.
jawab ,menantu Rasullulah.....

Barakallahu fii umriik

Semoga Aamiin diberkahi rejeki berlimpah dan bisa sowan makam Rasulullah dan Ibu Siti Khadijah Aamiin...

Sabtu, 06 Juli 2019

PENGHUNI LANGIT

Tidak ada komentar:
           Di Yaman, tinggallah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak. Karena penyakit itu tubuhnya menjadi belang-belang.
Walaupun cacat tapi ia adalah pemuda yang sholeh dan sangat berbakti kepada ibunya, seorang wanita tua yang lumpuh.
Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.

“Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi bersamamu. Ikhtiarkan agar ibu dapat mengerjakan haji,” pinta sang ibu.

            Mendengar ucapan sang ibu, Uwais termenung. Perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh, melewati padang tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Lantas bagaimana hal itu dilakukan Uwais yang  miskin dan tidak memiliki kendaraan?

             Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seekor anak lembu, kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkin pergi haji naik lembu.
Uwais membuatkan kandang di puncak bukit.
Setiap pagi ia bolak-balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit.
“Uwais gila... Uwais gila..” kata orang-orang yang melihat tingkah laku Uwais.
Ya, banyak orang yang menganggap aneh apa yang dilakukannya tersebut.

             Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik-turun bukit.
Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar pula tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.

              Setelah 8 bulan berlalu, sampailah pada musim haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kilogram, begitu juga otot Uwais yang makin kuat. Ia menjadi bertenaga untuk mengangkat barang. Tahukah sekarang orang-orang, apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari? Ternyata ia sedang latihan untuk menggendong ibunya.

              Uwais menggendong Ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Makkah!
Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya itu. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.

              Uwais berjalan tegap menggendong ibunya wukuf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa.

“Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais.

“Bagaimana dengan dosamu?” tanya sang Ibu keheranan.

Uwais menjawab, “Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari ibu yang akan membawaku ke surga.”
Itulah keinginan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah subhanahu wata’ala pun memberikan karunia untuknya.

Kerinduan Uwais kepada Rasulullah

               Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al Qarni sampai juga di kota Madinah.
Segera ia mencari rumah Raulullah SAW.
Setelah ia menemukan rumah Rasulullah, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al Qarni menyakan Rasulullah yang ingin dijumpainya.

                Namun ternyata Rasulullah tidak berada di rumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran.
Uwais Al Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah r.a.
Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi, tetapi Rasulullah tidak dapat dijumpainya.

              Dalam hati Uwais Al Qarni bergejolak perasaan ingin menunggu kedatangan Rasulullah dari medan perang.
Tapi kapankah Rasulullah pulang? Sedangkan masih terniang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu,agar ia cepat pulang ke Yaman, “Engkau harus cepat pulang.”

               Akhirnya, karena ketaatanya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Rasulullah. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah r.a., untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Rasulullah.
Setelah itu, Uwais pun segera berangkat pulang mengayunkan lengkahnya dengan perasaan amat sedih dan terharu.

                 Ketika peperangan telah usai dan Rasulullah pulang menuju Madinah.

                 Sesampainya di rumah, Siti Aisyah menceritakan tentang orang yang mencarinya.
Nama nya Uwais dari yaman, namun dia harus segera pulang ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.
Kata Rasulullah "dia adalah penghuni langit"

              Kemudian Rasulullah melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al Qarni, penghuni langit itu, kepada sahabatnya, “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di tengah telapak tangannya.”

               Setelah itu Rasulullah memandang kepada Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khatthab seraya berkata, “Suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do'a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

           Waktu terus berganti, dan setelah Rasullullah wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khaththab.
Suatu ketika Khalifah Umar teringat akan sabda Rasulullah tentang Uwais Al Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib.
Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu. yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari? Mengapa Khalifah Umar dan sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib selalu menanyakan dia?

            Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka.
Suatu ketika, Uwais Al Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang baru datang dari Yaman, segera Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib segera pergi menjumpai Uwais Al Qarni.

                Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang sholat.
Setelah mengakhiri sholatnya dengan salam, Uwais menjawab salam Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib sambil mendekati kedua sahabat Rasulullah tersebut dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah dengan segera membalikan telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan Rasulullah. Memang benar! Tampaklah tanda putih di telapak tangan Uwais Al Qarni.

                Wajah Uwais nampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi. Bahwa ia adalah penghuni langit.
Kemudian Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah”. Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al Qarni”.

              Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. akhirnya Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib memohon agar Uwais membacakan do'a dan Istighfar untuk mereka.
Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “Saya lah yang harus meminta do’a pada kalian”.

              Mendengar perkataan Uwais, “Khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon do'a dan istighfar dari Anda”. Seperti dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya.
Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdo'a dan membacakan istighfar.
Setelah itu Khalifah Umar berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Akan tetapi Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang.
Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Fenomena ketika Uwais Al Qarni Wafat

             Beberapa tahun kemudian, Uwais Al Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan di mandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang ingin berebutan ingin memandikannya. Dan ketika di bawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang sudah menunggu untuk mengafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa ke pekuburannya, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.  

Meninggalnya Uwais Al Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman.
Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al Qarni adalah seorang yang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang.
Mereka saling bertanya-tanya, “Siapakah sebenarnya engkau Wahai Uwais Al Qarni?
Bukankah Uwais yang kita kenal,
hanyalah seorang fakir,
yang tak memiliki apa-apa,
yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai pengembala domba dan unta?
Tapi, ketika hari wafatnya, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal.
mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya.”

Berita meninggalnya Uwais Al Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar kemana-mana.
Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al Qarni disebabkan permintaan Uwais Al Qarni sendiri kepada Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib agar merahasiakan tentang dia.
Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah di sabdakan oleh Rasulullah, bahwa Uwais Al Qarni adalah penghuni langit.

💖 اللهم صل على سيدنامحمد وعلى ال سيدنامحمد 💖

Selasa, 04 Juni 2019

"IJAZAH CERDAS, KUAT INGATAN, MUDAH MENGHAFAL"

Tidak ada komentar:
                 Kadang suatu ilmu susah nempel di benak kita, atau seorang anak atau pelajar susah menghafal, sebentar2 lupa. Maka selain dibarengi giat belajar, Sayyidina Qutbil Wujud AlHabib Ali Al-Habsyi Shohibul Maulid (Simthudduror) mengajarkan:

               Yaitu meletakkan tangan kanan di atas kepala setiap kali selesai sholat sambil membaca ayat Al A'la (Sabbihisma) dari awal dan ketika sampai pada ayat ke-6 "sanuqriuka fala tansaa"

سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنسَىٰ

di ulang 7X dan lanjut kan hingga selesai surah.

Kemudian di tambah ayat dibawah ini:

*فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا وَسَخَّرْنَا مَع َ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ

"FA FAHHAMNAAHAA SULAIMAANA WA KULLAN ATAYNAA HUKMAN WA 'ILMAN WA SAKHKHORNAA MA'A DAAWUUDAL JIBAALA YUSABBIHNA WAT THOIIR" (1x).

Jika di terapkan utk anak yg blm bisa baca maka orang tuanya yg baca, sambil tangan kanan nya diletakkan pada kepala si anak, maka insyaallah akan memiliki kemampuan mudah menyerap ilmu, gampang menghafal dan kita atau anak kita menjadi cerdas.

Wallahu a'lam insyaallah bermanfaat..



Senin, 13 Mei 2019

KH TURAIKHAN ADJUHRI

Tidak ada komentar:
                   LEGENDA astronomi Islam Indonesia itu bernama KH Turaikhan Adjuhri. Mbah Tur panggilan akrabnya. Ia kiai sederhana yang mewarisi tradisi matematika dan fisika, dan dikenal luas di dunia pesantren di Indonesia. Meski menolak disebut ahli falak –ilmu perbintangan dalam Islam untuk menentukan arah qiblat, waktu shalat dan tanggal mulai dan berakhirnya bulan-bulan dalam tahun Hijriyah –tapi para ahli falak tak pernah alpa merujuk namanya. Ia lahir dan wafat di Kudus.
.
                 Dengan matanya yang telanjang, kecuali lensa minus dan teropong teodolit temuan Lippershey, tiap menjelang Ramadhan ia berdiri di pesisir pantai mengintip bulan saat matahari di ufuk barat tergelincir meninggalkan sore. Dalam Islam peristiwa itu disebut sebagai "rukyah" atau menatap hilal (semburat bulan). Metamorfosa peralihan tanggal dari bulan Sya’ban ke Ramadhan. Apa yang dilihatnya akan menjadi fatwa kapan waktu dimulainya puasa Ramadhan bagi kaum nahdliyin.
.
                   Tahun ini adalah duapuluh Ramadhan tanpa KH Turaikhan Adjuhri sepeninggalnya tahun 1999. Ia meninggalkan empat anak, dan mewariskan keahlian falak pada salah satu puteranya bernama Sirril Wafa’. Juga dua santri kesayangannya: KH Nur Ahmad di Krian, Jepara, dan KH Ma’sum Rosyidi di Kudus. Melalui Sirril Wafa’, almanak Menara tiap tahun dicetak dan menghiasi ruang tamu kiai-kiai NU dan para santrinya.
.
                Ia wafat meninggalkan almanak Menara, yang oleh ahli astronomi disebut sebagai kalender paling presisi. Angka-angka dalam perhitungan kalender itu adalah rumus abadi bagi para santrinya.
.
                 KH Turaikhan adalah Galileo Islam Indonesia. Ia menjadi duri bagi stabilitas pemerintah, dan sempat diintrograsi oleh Koramil di Kudus tahun 1990, sebab menentukan waktu lebaran yang berbeda dengan pemerintah. Ia tentang maklumat pemerintah yang menyeru masyarakat agar bersembunyi di rumah-rumah ketika gerhana matahari tiba, dan justru menganjurkan umat agar melihat gerhana dan mendirikan shalat kusuf. Di hadapan serdadu, dalam intrograsi itu, dengan kukuh ia menjawab, “Urusan saya adalah agama.”
.
                KH Turaikhan adalah kisah kecil dari pembangkangan kaum astronom dalam menghitung waktu.

                Kisah besarnya adalah Galileo yang terpenjara di Kota Arcetri, Italia, pada 1632, karena menebar mazhab heliosentrisme – yang memandang matahari adalah pusat semesta alam – seperti ditulis dalam skrip "Dialogue". Ia subversif terhadap doktrin gereja di bawah otoritas Paus Urbanus yang geosentrisme. Jika Galileo penyokong Copernicus, KH Turaikhan penyokong Syekh Husein Zaid al-Misro, pengarang kitab Al-Mathla’ul Sa’id asal Mesir, yang banyak mempengaruhi pemikirannya.
Ilmu falak adalah ilmu waktu. Dunia bisnis mengenal waktu sebagai uang. Jawa menamai pawukon dalam kalender Saka, dan Islam mengenal waktu sebagai ibadah. Bagaimana menentukan waktu untuk sholat dan puasa, ilmu falak memberinya jawaban. Seperti planet-planet yang terus berotasi, waktu pun tak pernah berhenti berputar. Tapi, pada Sabtu Pon, 9 Jumadil Awal 1420 H, bertepatan dengan 20 Agustus 1999, jarum jam seakan berhenti berputar. KH Turaikhan mangkat dan disemayamkan dengan damai di dekat makam Sunan Kudus dengan ribuan umat yang menghujani air mata di sepanjang jalan Menara yang muram. Tak ada ruang bagi pelayat untuk bergerak. Beribu pasang kaki saling menyesaki. Keranda yang membungkus jenazahnya berjalan sendiri hingga ke liang lahat dari tangan santri ke tangan santri lainnya. Sabtu Pon yang pilu itu akan dikenang sepanjang masa oleh para santrinya dalam haul dan munajat.
Mengenang Ramadhan bagi santri adalah mengenang KH Turaikhan Adjuhri, yang berdiri di pesisir pantai melihat semburat rembulan. Sesedih umat Islam ketika Ramadlan hampir tanggal, sesedih itu pula umat Islam meratapi kepergian sang syuhada dan ahli falak yang sangat dihormati bernama KH Turaikhan Adjuhri.

Kudus, September 2004



Rabu, 08 Mei 2019

Kisah Cinta Gus Dur dan Ibu Shinta Nuriyah

Tidak ada komentar:
                Cerita ini merupakan kisah nyata yang dialami oleh Gus Dur dan Ibu Shinta Nuriyah. Gus Dur muda dikenal sebagai pria pemalu. Ia lebih memilih buku dan bola sebagai teman daripada harus berpacaran. Maka ketika ia ditawari untuk kuliah di Mesir, ia di wanti-wanti oleh Pamannya, KH Fatah agar sebaiknya ia mencari isteri dulu segera. “Soalnya, kalau nunggu pulang dari luar negeri, kamu hanya akan mendapat wanita tua dan cerewet!” ucap Sang Paman.

            Mendengar pesan Sang Paman yang sangat menyayanginya itu ia gelagapan. Namun, setelah dipikir-pikir lagi pesan Pamannya tersebut masuk akal juga bagi diri Gus Dur saat itu. Apalagi Sang Paman tidak hanya menganjurkan. Tetapi juga membantu mencarikan calon. Lalu disodorkan nama Shinta Nuriyah, yang pernah menjadi murid Gus Dur ketika menjadi Guru di Mua’llimat. Tanpa membantah sepatah kata pun, dia mengiyakan pilihan Pamannya tersebut.

            Sayangnya Shinta Nuriyah saat itu belum bersedia dipinang lantaran ia baru saja trauma oleh salah seorang gurunya yang meminangnya ketika ia baru berusia 13 tahun. Celakanya guru itu juga bernama Abdurrachman pula.

            Maka ketika pertama kali ia menerima surat dari Gus Dur, Nuriyah ogah-ogahan dan berkomentar, “Ah Abdurrachman lagi Abdurrachman lagi.” . Namun keraguan Nuriyah berubah menjadi simpati ketika dalam sebuah suratnya Gus Dur mengeluhkan bahwa ia tidak naik tingkat karena terlalu aktif di PPI (Persatuan Pemuda Indonesia) di Mesir.

            Maka lewat surat balasannya, Nuriyah-pun tersentuh dan mencoba menghibur. “Masak manusia harus gagal dalam segala-galanya?” tulis Nuriyah. “Gagal dalam studi, paling tidak berhasil dalam hal jodoh”. Begitu menerima surat itu, Gus Dur – pun sangat bahagia dan langsung meminta Ibunya untuk segera melamar Nuriyah. Kebetulan, sebentar lagi salah satu adik Gus Dur juga akan menikah dan sungkan untuk melangkahi kakaknya.

            Maka tanggal pernikahan pun disamakan, Pernikahan pun direncanakan dilaksanakan di Tambak Beras – Jombang. Karena Gus Dur sedang di Mesir maka terpaksa pernikahan dilakukan tanpa menghadirkan mempelai pria alias in absentia.

            Pihak keluarga meminta kakek Gus Dur dari garis Ibu, KH Bisri Syansuri , yang berusia 68 tahun , untuk mewakili mempelia pria. Tak pelak para hadirin kaget saat menyaksikan acara Ijab Kabul. Mereka merasa iba pada Nuriyah. “Kasihan ya Si Nuriyah, suaminya tua banget”.

           Maka sepulang sekolah dari Irak dan melanglangbuana di eropa, aksi pertama yang dilakukan Gus Dur adalah  mengulang proses akad nikah, mereka menggelar resepsi betulan kali ini dengan mempelai pria yang asli dan akhirnya mempelai pria tersebut kini benar-benar menjadi Guru Bangsa Indonesia yang pluralis, demokrat, humanis dan juga jenaka.

Cinta Gus Dur yang Meluluhkan Hati Sinta Nuriyah

Dalam momen Sewindu Haul Gus Durdi Ciganjur, Jakarta Selatan (22/12/2017), K.H. Sanusi Baco turut membagi kisahnya tentang sosok pria bernama lengkapAbdurrahman Wahid itu. Sanusi, yang menjabat sebagai Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), mengisahkan sisi romantis Gus Dur.

Sanusi pernah satu kapal bersama Gus Dur dalam perjalanan menuju Mesir untuk menimba ilmu. Suatu kali, ia tak sengaja melihat Gus Dur sedang memandangi buku catatannya. Terlihat ada selembar foto seorang gadis terselip di antara halaman buku itu.

“Siapa itu?” tanya Kiai Sanusi penasaran.

“Wanita lah,” jawab Gus Dur dengan lagak bercanda.

Ketika Kiai Sanusi menanyai lebih lanjut, barulah Gus Dur menjawab bahwa itu adalah foto calon istrinya.

Gadis dalam foto itu bernama Sinta Nuriyah. Kepada Sanusi, Gus Dur mengaku selalu membawa foto itu ke mana-mana. Baginya, foto itu adalah pengobat rindu dan penyemangat belajar.

Bertemu di Ruang Kelas dan Jatuh Cinta

Gus Dur muda bertemu pertama kali dengan Sinta saat mengajar di madrasah Tambakberas, pada awal 1960-an. Sinta adalah salah seorang muridnya di madrasah itu. Selain berpenampilan menarik, Sinta juga termasuk murid yang cerdas. Karena itu, tak heran jika ia menarik minat banyak lelaki.

Gus Dur sendiri—meskipun kakek dan ayahnya adalah kiai-kiai besar—adalah guru yang canggung. Ia seorang kutu buku yang berkacamata tebal dan agak gemuk. Sebagai seorang santri, sampai pada umurnya saat itu yang menginjak dua puluhan, ia belum pernah berkencan atau menjalin hubungan dengan seorang perempuan.

Gus Dur mulai mendekati Sinta sebelum ia berangkat ke Kairo, Mesir, pada November 1963. Salah satu caranya ialah dengan kerap memberi buku untuk Sinta. Sayangnya, pemberian Gus Dur selalu ditolak. Tidak ada respons yang memadai dari Sinta saat itu, meski Gus Dur tak sepenuhnya ia tolak.

Dalam Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid (2017), Greg Barton menulis, “Gus Dur bukanlah sama sekali tanpa daya tarik. Baginya Gus Dur menarik perhatiannya karena keintelekan dan juga tujuan hidupnya yang kuat. Tetapi ia tentu saja bukanlah seorang bintang film sehingga harus bekerja keras selama beberapa tahun untuk mendapatkan cinta gadis ini” (hlm. 58-59).

Dari sahibul hikayat yang lain, musabab Sinta belum mau menerima cinta Gus Dur adalah karena trauma oleh pinangan seorang gurunya saat masih berusia 13. Kebetulan, nama guru itu juga Abdurrahman.

Selama di Mesir, Gus Dur mencoba menjalin komunikasi dengan Sinta melalui surat. Ia merasa masih punya harapan karena Sinta teratur mengirim surat balasan. Selama tiga tahun, keduanya menjalin hubungan via surat dan perlahan mulai yakin bahwa mereka serasi.

Pada pertengahan 1966, ketika dirasa hubungan mereka cukup dekat, Gus Dur memberanikan diri bertanya apakah Sinta bersedia menjadi istrinya. Sinta menjawab, “Mendapatkan teman hidup bagaikan hidup dan mati. Hanya Tuhan yang tahu.”

Mendapat jawaban menggantung seperti itu, Gus Dur tetap gigih berusaha meluluhkan hati Sinta. Ia tetap mengirimi pujaan hatinya surat sambil mengungkapkan rasa frustrasi atas kegagalan pendidikannya di Mesir. Dibanding kata cinta yang berbuih-buih, curhat itu lebih ampuh meluluhkan hati Sinta.

Dalam surat balasannya, Sinta dengan simpatik menulis, “Mengapa orang harus gagal dalam segala hal? Anda boleh gagal dalam studi, tetapi paling tidak Anda berhasil dalam kisah cinta.”

Gus Dur merasa itu sebagai sinyal positif. Segera ia menulis surat kepada ibunya untuk melamarkan Sinta untuknya (hlm. 101-102).

Menikah Secara "In Absentia"

Akhirnya menikahlah Gus Dur dan Sinta Nuriyah pada 11 Juli 1968. Saat akad nikah dilakukan, Gus Dur diwakili kakeknya dari garis ibu, K.H. Bisri Syansuri. Gus Dur tentu saja tak bisa hadir secara langsung karena sedang menuntut ilmu di Irak.

“Pernikahan ini sempat membuat geger tamu yang menyaksikan acara ijab kabul. Bagaimana tidak, pengantin laki-laki sudah tua. Namun kesalahpahaman itu hilang setelah pada 11 September 1971, pasangan Gus Dur–Nuriyah melangsungkan pesta pernikahan,” tulis M. Hamid dalam Jejak Sang Guru Bangsa (2014: 19).

Meskipun berasal dari keluarga kiai terpandang, bukan berarti Gus Dur hidup berkelimpahan. Tahun-tahun pertama pernikahannya harus dilewati dengan kesederhanaan. Untuk menjaga dapur tetap mengepulkan asap, Gus Dur mulai aktif menulis pemikiran-pemikirannya di beberapa media seperti Prisma, Tempo, dan Kompas.Kolom-kolomnya mendapat sambutan baik dan segera moncer sebagai pengamat sosial.

Gus Dur juga mendapat honorarium dari ceramah-ceramahnya di muka umum. Tetapi sumber-sumber pemasukan itu belum dapat menutup semua kebutuhan hidup pasangan muda itu. Sinta pun ikut turun tangan membantu suaminya mencukupi kebutuhan rumah tangga dengan membuat kacang goreng dan es lilin.

Tentang ini, Greg Barton menulis, "Ibu Gus Dur memberikan kepadanya sebuah skuter Vespa. Gus Dur menggunakan skuter ini untuk mengantar 15 termos es yang diisi penuh dengan es lilin ke tempat-tempat strategis di segenap kota. Es lilin ini cepat menjadi populer dan dikenal sebagai ‘Es Lilin Gus Dur’” (hlm. 119-121).

Mendampingi Suami sebagai Tokoh Nasional

Kebersamaan seperti itu terbawa terus hingga Gus Dur menjadi tokoh nasional. Di awal dekade 1990-an, pasangan ini telah hidup mapan. Tetapi, ujian hidup memang tak bisa diterka datangnya. Pada medio 1993, minibus yang ditumpangi Sinta dan ibu Gus Dur mengalami kecelakaan di sebuah jalan tol di Jakarta.

Keduanya selamat meski terluka. Sinta mendapat luka paling parah. Ia mengalami tumbukan serius pada tulang belakang. Setelah dirawat selama beberapa minggu, ia tak pernah benar-benar pulih. Dokter yang merawatnya mengatakan bahwa Sinta mengalami kelumpuhan dan harus berkursi roda untuk seterusnya.

Kenyataan ini membuat Gus Dur terpukul. Apalagi sang ibunda, Solichah, meninggal dunia setahun kemudian. “Bersama dengan Nuriyah, sang ibu merupakan kekuatan dalam hidupnya. Sekarang sang ibu telah tiada dan Nuriyah sedang menjalani terapi yang lama dan menyakitkan,” tulis Greg Barton (hlm. 242-243).

Sosok gusdur & ibu shinta banyak yg mengagumi perjalanan cinta beliau krn sampai akhir hayatnya ibu shinta setia dengan sosok gusdur yang selalu beliau cintai sampai saat ini dan hingga nanti amin

#al fatihah.    

Kamis, 21 Maret 2019

MAQBAROH ULAMA' MASYHUR ASAL GRESIK

Tidak ada komentar:
     Almaghfurlah KH. Faqih Maskumambang, Dukun Gresik Jawa Timur.

      Salah satu ulama penting di awal berdirinya jamiyyah Nahdlatul Ulama. Mbah Faqih menjabat sebagai Wakil Rais Akbar NU, atau wakilnya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.
.
.
       Diantara santri dari Mbah Kiai Faqih adalah KH Abdul Hadi (Langitan), KH Zubair Sarang (ayah KH Maimon Zubair), KH Imam Kholil Sarang. Sementara dari keluarganya sendiri adalah KH Ma’sum Ali (pengarang kitab shorof al-amtsilah at-tashrifiyyah, juga menantu mbah KH Hasyim Asy’ari) dan KH Adlan Ali (adiknya KH Ma’sum Ali, yang juga dijodohkan Mbah Kiai Hasyim Asy’ari dengan keponakannya).
.
.
        Pada tahun 1922, empat tahun sebelum lahirnya NU 1926, Mbah Kiai Faqih sudah menulis kitab fenomenal berjudul “AN-NUSHUSH AL-ISLAMIYYAH FI RADD AL-WAHHABIYYAH”. Kitab ini diterbitkan oleh Darul Ihya, Mesir, tahun 1922. Dalam bahasa Indonesia, berjudul “Menolak Wahabi, Membongkar Penyimpangan Sekte Wahabi; dari Ibnu Taimiyah hingga Abdul Qadir At-Tilmisani”. Penerbitnya adalah Sahifa Surabaya, tahun 2015.
.
.
        Pesarehan mbah faqih terletak di komplek pemakaman umum sebelah utara kantor kecamatan Dukun Kabupaten Gresik Jawa Timur.
.
.
           Semoga kita semua bisa sambung sanad perjuangan dan ilmu dengan beliau. Aaamiin... Lahul Fatihah .




Rabu, 20 Maret 2019

Adat Para Leluhur Ba'alawi dalam mendidik anak

Tidak ada komentar:
                   Kebiasaan para pendahulu kita yaitu orang-orang Sholeh dari Keluarga Ba'alawi (semoga Allah meridhoi mereka).
Ada 10 kebiasaan Salaf dalam mendidik Anak-anak mereka:

1. Seorang Ibu ketika menyusui sambil membaca Ayat Kursi dan Al ikhlas, Al falaq ,An nas dan mengulang-ulang nya.

2. Pertama kali yg diajarkan ke anak ketika baru bisa bicara.
"Rodhitu billahi Robba Wa bil Islami diina Wa bimuhammadin sholla Allahu ‘alayhi wa sallam Nabiyyan wa Rosuula"
artinya (aku ridho Allah sbg Tuhanku dan Islam agamaku dan Nabi Muhammad Nabi dan Rosulku )

3. Mengajak keluar anak-anak kecil ketika waktu malam yg terakhir(sebelum subuh) ke masjid agar menjadi kebiasaan.

4. Sebelum memasuki Bulan-bulan berkah seperti Ramadhon, mereka mengumpulkan anak-anak mereka dan bertanya kpd mereka, apa yg akan kalian kerjakan dibulan yg berkah ini? dari amalan membaca Al Qur'an, dzikir,dan sedekah dll.

5. Mereka mengajari anak-anak mereka niat-niat yg baik sebagaimana mereka mengajari Surat Al Fatihah.

6. Mereka mengadakan majelis ilmu di rumah, dan berkumpul semua yang ada dirumah, majlis harian atau mingguan, mereka membaca sedikit dr alqur'an Al kariem(tadarus) dan kitab hadits serta fiqih
dan mereka menutup majelis dengan doa dan solawat kepada Nabi Muhammad SAW.

7. Ketika masuk baligh anak mereka, mereka memberi tahu anaknya klo sudah Mukallaf dan sekarang dua Malaikat akan mencatat kebaikan dan kejelekan dan menulis ucapan dan perbuatannya, dan hal itu diadakan perayaan yg dihadiri para ulama' dan orang orang sholeh.

8. Mereka tidak menunda pernikahan anak-anak mereka setelah baligh kawatir terjerumus kpd kemaksiatan.

9. Mereka mengajari anak-anak dgn berdoa memohon kpd Allah dlm setiap keadaan, maka apabila anaknya ingin sesuatu dr orang tuanya, mereka berkata kpd anaknya wudhu'lah dan sholat 2 rokaat dan mintaklah kepada Allah hajat-hajatmu. dan setelah sholat orang tua memberikan yg anak minta seraya berkata Sungguh Allah yang mengabulkan doamu.

10. Mereka membagi tugas kepada setiap anak, ada yg tugas belanja ke pasar, dan ada yg menyapu rumah dan ada yg tugas melayani tamu dan ngambil air tsb.


Senin, 18 Maret 2019

Mbah Anwar Manshur, Kiai Tawadlu' Paku Bumi Jawa Timur

Tidak ada komentar:

               Kiai kharismatik Pondok Pesantren Lirboyo ini adalah salah satu penerus tapak tilas perjuangan para tokoh-tokoh pendahulunya. Kiai alim yang menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo ini mengemban amanat cukup berat, untuk bisa mempertahankan nilai pendidikan tradisional yang telah ditanamkan para tokoh sebelumnya; KH. Abdul Karim, KH. Marzuqi Dahlan dan KH. Mahrus Aly.

               Beliau adalah KH. M. Anwar Manshur, atau biasa disapa Mbah War, merupakan putra dari pasangan Nyai Salamah (putri Pendiri Pesantren Lirboyo KH. Abdul Karim yang ke-3) dengan KH. Manshur Jombang. Anwar kecil dididik dan diasuh di lingkungan Pesantren Lirboyo. Kemudian pendidikannya dilanjutkan ke Ponpes Pacul Gowang Jombang, pesantren ayahnya sendiri. Lalu melanjutkan menimba ilmu di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang sampai tingkat tsanawiyah dan diteruskan di Pesantren Lirboyo Kediri.

                KH. M. Anwar Manshur menikah dengan Ibu Nyai Umi Kulsum, putri KH. Mahrus Aly. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai 8 orang anak; 3 putra dan 5 putri. Sepeninggal istri tercintanya itu lalu Kiai Anwar menikah dengan Ibu Nyai Husnah binti KH. Ahyat. Namun tak lama Nyai Husnah juga meninggal dunia. Kemudian Kiai Anwar menikah untuk ketiga kalinya dengan Ibu Nyai Mahfudzotin dari Pesantren Peterongan Jombang. Dari pernikahan dengan istri ke-2 dan ke-3 Kiai Anwar tidak dikaruniai anak.

                 Di tengah kesibukannya mengurus para santri dan anak-anaknya, KH. M. Anwar Manshur juga aktif dalam beberapa kegiatan dan organisasi, menjabat sebagai Rais Syuriah PWNU Jawa Timur, Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri dan salah satu Mustasyar PBNU periode 2015-2020.

Kepribadian KH. M. Anwar Manshur

            Sebagai salah satu pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kiai Anwar sangat perhatian dan telaten kepada santri-santrinya baik putra maupun putri. Seringkali Kiai Anwar menasihati para santrinya agar rajin belajar dan tekun beribadah, senantiasa mensucikan hati dan fikiran agar ilmu yang sedang dipelajari mudah diterima.

             Dalam mendidik para santrinya Kiai Anwar lebih menekankan akhlak. “Santri itu harus mempunyai akhlak yang baik, terpuji dan berbudi luhur karena itu cerminan santri sejati. Dan seorang santri pun harus bisa membaca al-Quran. Karena sekarang ini masih banyak santri lulusan pesantren yang belum bisa membaca al-Quran,” tutur Kiai Anwar Manshur menyayangkan.

             Selain itu Kiai Anwar juga menanamkan dasar aqidah yang kuat kepada para santrinya dalam rangka membentengi diri dari berbagai macam aliran-aliran Islam yang menyimpang. Hubungan Kiai Anwar dengan masyarakat pun terjalin baik. Tak jarang beliau menghadiri acara ketika diundang oleh tetangga atau masyarakat sekitar. Karena selain pengasuh pondok pesantren beliau juga sebagai tokoh masyarakat yang memang seharusnya menjadi sosok teladan bagi mereka.

              KH. M. Anwar Manshur adalah sosok kiai sepuh yang amanah dalam menjalankan pendidikan di Pondok Pesantren Lirboyo. Kiai Anwar terus berjuang mengembangkan pesantrennya agar bisa bertahan meskipun dengan model pendidikan salaf (tradisional)nya. Selain itu Kiai Anwar juga gemar bersilaturrahim, karena meniru kebiasaan baik yang sering dilakukan oleh Kiai Marzuqi Dahlan dan Kiai Mahrus Aly.

                 Di mata keluarga, KH. M. Anwar Manshur adalah seorang teladan bagi anak-anaknya yang istiqomah dalam beribadah dan mengajar. Sebagai seorang ayah Kiai Anwar sering berpesan pada putra-putrinya untuk mengarahkan pendidikan anak-anaknya di pondok pesantren. “Jika anak dididik di pesantren pasti memiliki nilai lebih entah dari sisi akhlak ataupun aqidahnya, dan itu yang terpenting. Karena melihat realita, situasi dan kondisi lingkungan masyarakat sekarang ini tidak sehat. Maka dari itu, pesantren adalah salah satu tempat pendidikan agama untuk menyelamatkan generasi muda dari pengaruh zaman dan pergaulan bebas yang dapat menghancurkan masa depan anak-anak bangsa.” Ucap Kiai Anwar memberikan nasihat.

Semoga beliau senantiasa mendapatkan perlindungan dari Allah swt.

Lahul Fatihah..🤲🏻

KISAH HIKMAH SUFI : RUMI & WALI MURYSID NYA

Tidak ada komentar:
             Suatu malam, Jalaluddin Rumi r.a mengundang Syekh Syams Tabrizi ke rumahnya.
Sang Mursyid Syamsuddin pun menerima undangan itu dan datang ke kediaman Rumi. Setelah semua hidangan makan malam siap, Syams berkata pada Rumi

            “Apakah kau bisa menyediakan minuman untukku?”. (yang dimaksud : arak / khamr)
Rumi kaget mendengarnya, “memangnya guru juga minum?’.
“Iya”, jawab Syams.
Rumi masih terkejut,”maaf, saya tidak mengetahui hal ini”.
“Sekarang kau sudah tahu. Maka sediakanlah”.
“Di waktu malam seperti ini, dari mana aku bisa mendapatkan arak?”.
“Perintahkan salah satu pembantumu untuk membelinya”.

              “Kehormatanku di hadapan para pembantuku akan hilang”.
“Kalau begitu, kau sendiri pergilah keluar untuk membeli minuman”.
================
             “Seluruh kota mengenalku. Bagaimana bisa aku keluar membeli minuman?”.
“Kalau kau memang muridku, kau harus menyediakan apa yang aku inginkan. Tanpa minum, malam ini aku tidak akan makan, tidak akan berbincang, dan tidak bisa tidur”.

            Karena kecintaan pada Gurunya Syams, akhirnya Rumi memakai jubahnya, menyembunyikan botol di balik jubah itu dan berjalan ke arah pemukiman kaum Nasrani.

            Sampai sebelum ia masuk ke pemukiman tersebut, tidak ada yang berpikir macam-macam terhadapnya, namun begitu ia masuk ke pemukiman kaum Nasrani, beberapa orang terkejut dan akhirnya menguntitnya dari belakang.

           Mereka melihat Rumi masuk ke sebuah kedai arak. Ia terlihat mengisikan botol minuman kemudian ia sembunyikan lagi di balik jubah lalu keluar.
Setelah itu ia diikuti terus oleh orang-orang yang jumlahnya bertambah banyak. Hingga sampailah Rumi di depan masjid tempat ia menjadi imam bagi masyarakat kota.
================
        Tiba-tiba salah seorang yang mengikutinya tadi berteriak; “Ya ayyuhan naas, Syeikh Jalaluddin yang setiap hari jadi imam sholat kalian baru saja pergi ke perkampungan Nasrani dan membeli minuman!!!”.
Orang itu berkata begitu sambil menyingkap jubah Rumi. Khalayak melihat botol yang dipegang Rumi. “Orang yang mengaku ahli zuhud dan kalian menjadi pengikutnya ini membeli arak dan akan dibawa pulang!!!”, orang itu menambahi siarannya.

         Orang-orang bergantian meludahi muka Rumi dan memukulinya hingga serban yang ada di kepalanya lengser ke leher.
Melihat Rumi yang hanya diam saja tanpa melakukan pembelaan, orang-orang semakin yakin bahwa selama ini mereka ditipu oleh kebohongan Rumi tentang zuhud dan takwa yang diajarkannya. Mereka tidak kasihan lagi untuk terus menghajar Rumi hingga ada juga yang berniat membunuhnya.

             Tiba-tiba terdengarlah suara Syams Tabrizi; “Wahai orang-orang tak tahu malu. Kalian telah menuduh seorang alim dan faqih dengan tuduhan minum khamr, ketahuilah bahwa yang ada di botol itu adalah cuka untuk bahan masakan. Seseorang dari mereka masih mengelak
.
“Ini bukan cuka, ini arak”. Syams mengambil botol dan membuka tutupnya. Dia meneteskan isi botol di tangan orang-orang agar menciumnya. Mereka terkejut karena yang ada di botol itu memang cuka. Mereka memukuli kepala mereka sendiri dan bersimpuh di kaki Rumi. Mereka berdesakan untuk meminta maaf dan menciumi tangan Rumi hingga pelan-pelan mereka pergi satu demi satu.

          Rumi berkata pada Syams, “Malam ini kau membuatku terjerumus dalam masalah besar sampai aku harus menodai kehormatan dan nama baikku sendiri. Apa maksud semua ini?”.

           “Agar kau mengerti bahwa wibawa yang kau banggakan ini hanya khayalan semata. Kau pikir penghormatan orang-orang awam seperti mereka ini sesuatu yang abadi? Padahal kau lihat sendiri, hanya karena dugaan satu botol minuman saja semua penghormatan itu sirna dan mereka jadi meludahimu, memukuli kepalamu dan hampir saja membunuhmu. Inilah kebanggaan yang selama ini kau perjuangkan dan akhirnya lenyap dalam sesaat.

             Maka bersandarlah pada yang tidak tergoyahkan oleh waktu dan tidak terpatahkan oleh perubahan zaman
Bersandarlah hanya kepada Alloh SWT.

Allahumma Sholli a'la Sayyidina Muhammad wa ala alihi washobihi wasalim




Minggu, 10 Februari 2019

Kisah Pertemuan Syaikh Nawawi Al-Bantani dengan Ulama Jawa

Tidak ada komentar:
         
Dahulu, sewaktu Syaikh Nawawi Al-Bantani mudik ke tanah Jawa (Banten). Syaikh Nawawi Al-Bantani mengadakan pertemuan dengan para ulama Jawa terutama sahabat-sahabatnya sewaktu menuntut ilmu di Mekkah. Di antaranya; Syaikh Kholil Bangkalan, Syaikh Sholeh Darat Semarang, Syaikh Abdul Karim Kaliwungu, Syaikh Anwar Batang.

               Pertemuan itu disepakati bertempat di Alas Roban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah tepatnya di kediaman Syaikh Anwar. Di samping letaknya pertengahan antara Bangkalan (Jawa Timur) sebagai tempat tinggal Syaikh Kholil dan Banten (Banten) sebagai tempat tinggal Syaikh Nawawi. Ini juga dimaksudkan agar tidak diketahui oleh Kolonial Belanda, sebab Kolonial Belanda sangat keras jika ada pertemuan-pertemuan orang pribumi. Kolonial Belanda khawatir adanya pemberontakan oleh orang-orang pribumi. Namun, walaupun pertemuan para ulama itu sudah dirahasiakan sedemikian rapi tetap saja Kolonial Belanda mencium kabar itu. Akhirnya, tentara Kolonial Belanda dengan bersenjatakan lengkap menuju Alas Roban, Batang untuk membubarkan pertemuan itu dan menangkap para ulama.

                Dengan izin Allah, saat tentara Kolonial Belanda sampai di tempat tujuan (kediaman Syaikh Anwar), mereka tidak melihat satu pun ulama yang ada di tempat itu. Padahal di situ ada beberapa ulama yang sedang mengadakan pertemuan. Allah Ta’ala menyamarkan penglihatan mereka lantaran karomah para ulama yang sedang mengadakan pertemuan.
Setelah pertemuan berakhir, Syaikh Kholil Bangkalan kaget ternyata waktu sholat Dhuhur hampir habis, padahal beliau belum melaksanakan sholat Dhuhur. Di saat kebingungan, Syaikh Nawawi Al-Bantani menawarkan, “Mari ikut saya Syaikh Kholil, tentu di Mekkah belum masuk waktu Dhuhur, pegang tangan saya dan pejamkan kedua mata”. Syaikh Kholil Bangkalan hanya mengiyakan tawaran sahabatnya itu. Dan seketika itu, mereka berdua sudah berada di Mekkah dalam sekejap. Itulah di antara karomah yang dimiliki Syaikh Nawawi Al-Bantani.

Wallahu A’lam

GUS MIEK DAN MBAH DALHAR

Tidak ada komentar:
             

            Di tengah-tengah pendidikannya di Lirboyo, Gus Miek justru pergi ke Watucongol Magelang, ke pondok pesantren yang diasuh KH. Dalhar yang terkenal sebagai seorang wali di Jawa Tengah.

             KH. Dalhar adalah seorang di antara tiga wali yang termasyhur di Jawa Tengah. Wali-wali itu adalah KH. Hamid, Kajoran, Magelang, sebagai wali dakwah; dan KH. Dalhar sendiri sebagai wali hakikat. Akan tetapi, sejak KH. Dalhar wafat pada 1959, menurut sebagian pendapat, posisinya digantikan KH. Mangli, Muntilan, Magelang.

            Awal kedatangannya di Watucongol pada 1954, Gus Miek tidak langsung mendaftarkan diri menjadi santri, tetapi hanya memancing di kolam pondok yang dijadikan tempat pemandian. Hal itu sering dilakukannya pada setiap datang di Watucongol. Kebiasaannya memancing tanpa memakai umpan, terutama di kolam tempat para santri mandi dan mencuci pakaian, membuat Gus Miek terlihat seperti orang gila bagi orang yang belum mengenalnya. Setelah beberapa bulan dengan hanya datang dan memancing di kolam pemandian, ia lalu menemui KH. Dalhar dan meminta izin untuk belajar.

“Kiai, saya ingin ikut belajar kepada kiai,” kata Gus Miek ketika itu.
“Belajar apa tho, Gus, kok kepada saya,” tanya KH. Dalhar.
“Saya ingin belajar Al Qur’an dan Kelak ingin saya sebarkan,” jawab Gus Miek dengan mantap.

              KH. Dalhar akhirnya mau menerima Gus Miek sebagai muridnya, khusus untuk belajar Al Qur’an. Akan tetapi, Gus Miek tidak hanya sampai di situ saja, ia berulang kali juga meminta berbagai ijazah amalan untuk menggapai cita-cita, tanggung jawab, dan ketenangan hidupnya. Seolah ingin menguras habis semua ilmu yang ada pada KH. Dalhar, terutama dalam hal kapasitas KH. Dalhar sebagai seorang wali, mursyid tarekat, dan pengajar Al Qur’an. Gus Miek juga seolah ingin mempelajari bagaimana seharusnya menjadi seorang wali, apa saja yang harus dipenuhi sebagai seorang mursyid, dan seorang pengajar Al Qur’an.

           Setiap kali Gus Miek meminta tambahan ilmu, KH. Dalhar selalu menyuruh dia membaca Al Fatehah. Apa pun bentuk permintaan Gus Miek, KH. Dalhar selalu menyuruhnya mengamalkan Al Fatehah.

            Barangkali karena ajaran KH. Dalhar tersebut, Gus Miek banyak memberikan ijazah bacaan Al Fatehah kepada para pengikutnya untuk segala urusan. Bahkan apabila ingin berhubungan dengan Gus Miek, cukup dengan membacakan Al Fatehah saja. Dan, bisa jadi inilah yang mengilhami Gus Miek (di samping ijazah yang diberikan oleh Imam Al Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin yang disampaikan kepada adiknya) menerapkan ajaran sejumlah bacaan Al Fatihah dalam kegiatan wirid Lailiyah yang didirikannya pada tahun 1961, yang kemudian berkembang menjadi Dzikrul Ghofilin pada 1973.

            KH. Dalhar, bagi Gus Miek, adalah satu-satunya orang yang dianggap sebagai guru dunia dan akhirat. Oleh karena itu, selama berada di Watucongol, Gus Miek dengan telaten selalu membersihkan terompah KH. Dalhar, dan menatanya untuk lebih mudah dipakai ketika KH. Dalhar naik ke masjid. Menurut Gus Miek, hal itu dilakukan sebagai upayanya untuk belajar istiqamah. Sebab istiqamah, menurut ajaran KH. Djazuli, ayahnya, adalah lebih utama dari 1000 karomah. Oleh karena itu, dalam rangka melatih keistiqomahannya, Gus Miek memulai dengan istiqomah membersihkan dan menata terompah KH. Dalhar gurunya.
Pernah, di suatu hari, Gus Miek menemukan trompah KH. Dalhar yang biasanya ada di depan kamar ada dua buah yang sama persis baik ukuran maupun bentuknya sehingga ia tidak bisa membedakannya. Bungkul (tangkai tempat menjepit antara jari kaki) terompah KH. Dalhar terbuat dari emas, terompah yang satu juga sama. Akhirnya, ia membersihkan dan menata keduanya sambil menunggu siapakah tamu gurunya itu. Sekian lama ia menunggu sampai terkantuk-kantuk, tetapi terompah itu tetap dua buah jumlahnya. Ketika sesaat ia terlena, terompah itu tinggal satu. Ia terkejut, kemudian berlari jauh keluar pondok untuk melihat tamu tersebut sepanjang jalan sehingga nafasnya tersengal-sengal. Tetapi, jalan tampak sepi dan tidak ada seorang pun terlihat melintas. Padahal, menurut perkiraan Gus Miek, orang tua yang berjalan memakai terompah itu pasti belum jauh dan seharusnya sudah terkejar atau justru berada jauh di belakangnya.

Esok harinya, Gus Miek menemui KH. Dalhar yang baru turun dari masjid memimpin jama’ah shalat Zuhur. Sesampai di kamarnya Gus Miek bertanya: “Maaf, Guru, tamu Guru tadi malam itu siapa?”

          KH. Dalhar tidak menjawab, sementara Gus Miek tidak mau beranjak sebelum mendapatkan jawaban. Gus Miek tetap duduk menunggu jawaban dari KH. Dalhar. Ketika KH. Dalhar beranjak ke masjid untuk mengimami shalat Ashar, ia mengikutinya untuk menata terompah KH. Dalhar. Dan, ketika KH. Dalhar kembali ke kamar, Gus Miek pun kembali mengikutinya dan duduk di depan kamar untuk menunggu jawaban. Demikian juga ketika saat tiba waktu shalat Maghrib dan Isya. Sehingga, baru ketika sesudah Isya, KH. Dalhar menyuruh pembantunya memberi tahu bahwa tamunya semalam adalah Nabi Khidir. Setelah mendapatkan jawaban itu, barulah ia mau beranjak dari tempat duduknya. Menurut keterangan Nyai Dalhar, dari sekian banyak santri KH. Dalhar, hanya Gus Miek yang berani dan diizinkan masuk ke kamar KH. Dalhar.
Kegiatan Gus Miek di Watucongol selain mengaji Al Qur’an, Gus Miek juga tetap sering bepergian ke pasar-pasar, tempat hiburan, dan mengadu ayam jago. Kebiasaan ini membuat Gus Miek sering harus berhadapan dengan Gus Mad, putra KH. Dalhar, yang kebetulan saat itu memegang tanggung jawab sebagai keamanan pondok karena Gus Miek dianggap sering tidak disiplin. Sedangkan santri yang sering menemani Gus Miek saat di Watucongol adalah Bakri (KH. Bakri), kini pengasuh Pesantren Al Qur’an, Jampiroso, Kacangan, Boyolali.

                  Pernah Gus Miek menyuruh beberapa gus di Kediri agar buru-buru mondok di tempat KH. Dalhar karena dia akan meninggal. Semua berbondong ke tempat KH. Dalhar. Saat itu, Gus Miek menyatakan bahwa KH. Dalhar akan meninggal sekitar 23 Ramadhan 1959, begitu semua datang ke Watucongol, ternyata KH. Dalhar masih sehat. Tercatat di antara orang-orang yang pergi ke Watucongol adalah KH. Mubasyir Mundzir dan Gus Fu’ad (adik Gus Miek).

Pernah KH. Djazuli menugaskan Gus Nurul             Huda untuk datang ke Watucongol mewakili KH. Djazuli untuk menyerahkan adik-adiknya yang mondok ke Watucongol. Di Watucongol, Gus Huda di samping menyerahkan adik-adiknya kepada KH. Dalhar sebagaimana amanat KH. Djazuli, juga meminta maaf bila adiknya, Gus Miek, banyak melakukan kekeliruan di Watucongol. Tetapi, jawab KH. Dalhar waktu itu justru sangat mengejutkan Gus Huda, “Gus Miek itu difatihahi mental,” jawab KH. Dalhar. Gus Huda hanya tersenyum karena dia sudah paham akan adiknya yang satu itu.

          Dalam versi yang lain diceritakan bahwa bukan Gus Huda yang menyerahkan Gus Miek, tetapi kebalikannya. Saat itu, Gus Huda dan Gus Fua’ad disuruh KH. Djazuli agar mondok ke KH. Dalhar. Saat hendak berangkat, Gus Miek masih duduk di teras dengan hanya memakai celana pendek.
“Mau ke mana, Mas Dah?” tanya Gus Miek.
“Aku disuruh bapak mondok ke Jawa Tengah dengan Fu’ad,” jawab Gus Huda.
Keduanya kemudian berangkat dengan naik kereta api. Sesampainya di Watucongol, ternyata Gus Miek sudah berada di teras pondok dengan pakaian masih seperti tadi pagi ketika di kediri.
“Kenapa di sini?” tanya Gus Huda yang sudah mengenal kelebihan adiknya.
“Mengantar kalian kepada Kiai Dalhar,” jawab Gus Miek.
“Aku tidak mau kalau pakaianmu seperti itu,” jawab Gus Huda sambil memberikan pakaiannya ke pada Gus Miek untuk berganti pakaian.

          Mereka bertiga kemudian sowan. Setelah sowan, Gus Miek mengantarkan memilih kamar dan setelah itu hilang entah ke mana dengan meninggalkan pakaian Gus Huda.
Akhirnya, semua memburu Gus Miek karena dianggap telah berbohong perihal kematian KH. Dalhar. Tetapi semua menjadi terdiam ketika 25 Ramadhan 1959, KH. Dalhar benar-benar meninggal dunia.

Sabtu, 19 Mei 2018

TAWA " MALAIKAT " DI MASJID

Tidak ada komentar:
       
         "Kenalkanlah Anak kita dengan Masjid?"
Sering Terjadi Waktu Mau Sholat, Anak - Anak Kecil di Suruh Keluar dari Masjid, Alasannya Takut Mengganggu Sholat, Banyak Pengurus Masjid Yang tidak Sabar Menghadapi Anak - Anak Kecil Yang Lalu Lalang Keberada'annya di Masjid, Tidak Sedikit diantara Mereka Mengusir Anak Kecil Keluar dari Masjid, atau Menempatkan di Shaf Paling Belakang agar tidak Mengganggu Jama'ah Yang Lain...

Jangan Membuat Anak - Anak kecil "BINGUNG",
Anak - Anak Kecil Waktu Mengaji Selalu di Nasehati Oleh Ustadznya : Kalau Sudah dengar Adzan dimasjid, Maka Harus Sholat di masjid.

Dan Nabi Muhammad SAW Justru Berinteraksi dengan Anak - Anak di sa'at Sholat di Masjid...
Berikut ini ada Cerita yang bisa dijadikan Pelajaran Untuk kita, Yang ditangani Oleh Rosululloh SAW,
Di riwayatkan Oleh Sahabat Nabi yang Bernama Yaddad ra :

Suatu ketika Nabi datang ke Masjid Untuk Melaksanakan Sholat dan Nabi Membawa Cucunya, Hasan dan Husein,
Lalu Nabi Meletakkan Cucunya di sampingnya, Kemudian Nabi Mengangkat Takbirotul ihrom Memulai Sholat, Pada Sa'at Nabi Sujud, Sujudnya Nabi Sangat Lama sekali tidak Seperti biasanya, Maka Saya diam - diam Mengangkat Kepala Saya Untuk Melihat Apa Gerangan yang terjadi, dan benar saja, Saya Melihat Cucu Nabi sedang Menunggangi Punggung Nabi yang sedang Bersujud, Setelah Melihat Kejadian itu Saya Kembali Sujud Bersama Makmum yang Lainnya, Ketika Selesai Sholat Para Sahabat sibuk Bertanya Pada Rosululloh : "Wahai Rosululloh, Baginda Sujud sangat lama sekali, Sehingga kami Sempat mengira terjadi apa - apa atau Baginda sedang menerima Wahyu"...
Baginda Rosul Menjawab : "Tidak, Tidak, Tidak Terjadi apa - apa, Cuma tadi Cucuku Menaiki tubuhku, dan saya tidak mau Memburu - burunya sampai dia Menyelesaikan mainnya dengan Sendirinya"
(HR.Nasa'i dan Hakim).

Jika Anak - Anak Muslim Berlari, Riang ,Ketawa di Masjid yaitu lah Ciri khas Anak - Anak, ingatkanlah Mereka dengan Pelukan dan Senyuman Manis,
Sebenarnya Mereka "Malaikat" yang Sedang Bergembira di Rumah Robb-Nya,

Dalam Riwayat yg lain Rasulullah Mempercepat Sholatnya karena ada tangis anak kecil yang memanggil ibunya yg sedang ikut Sholat Berjama'ah Bersama Rasulullah,
Itulah Masjid Nabi yang tak sepi dari Anak - Anak Kecil, Maka Layak lah Para Pengurus Masjid diberi Pemahaman Tentang Masjid Sebagai Pusat Peradaban Islam...

Muahmmad Al fatih Penakluk konstantinopel Pernah Berkata : "Jika kalian tidak lagi Mendengar Riang tawa dan Gelak bahagia anak-anak di masjid - masjid, Maka Waspadalah... Sa'at itu kalian dalam Bahaya."

Maka dari itu, Biasakan Anak kita Kenal dengan Masjid, Ajak Mereka Untuk Sholat di Masjid...

Semoga Bermanfaat!!!

 
back to top